Senin, 28 November 2011

Kurang Pekanya Pelayanan Warung Makan

Sekilas tak ada yang mencurigakan. Celana biru tua dan kaos coklat yang kukenakan. Selesai mengantar seorang teman mencari buku bacaan untuk menambah kecerdasaan. Sekitar pukul 20.00wib, berhenti di sebuah warung makan sepanjang jalan gejayan. Yah, memang terlihat mewah dari luar. Tak pantaslah untuk seorang mahasiswa.”ah sekali-sekali boleh lah”. Dalam hatiku.mungkin warung itu sudah di kenal selurh penjuru kota yogyakarta. Warung yang pelayannya kebanyakan laki-laki ini menjadi pelepas dahagaku.

“kita duduk dmna bang?”. Kataku.
“diatas aja bang.” Sahut temanku.

Tangga yang terbuat dari kayu menjadi jalan untuk menuju kelantai dua. Begitu banyak pengunjung yang datang hanya untuk menghilangkan rasa haus dan lapar. Berbagai macam orang yang mengisi ruangan lantai dua. Akhirnya duduklah kami di kursi rotan depan televisi berlayar datar. Seorang lelaki dengan perwakan tinggi tapi kurus itu memberi kami dua lembar daftar menu. Ternyata lelaki yang memakai baju hitam itu adalah pelayan warung makan, karena baju yang dikenakan seragam dengan yang lainnnya.

Kami pun sibuk membaca dan memilih menu apa yang akan kita makan. Nama-nama aneh yang membuatku bingung untuk menentukan apa yang akan aku konsumsi malam ini. “Pesan minum dulu lah, makannya entar”.batinku.
Berhubung aku suka dengan rasa coklat, akhirnya ku pesan minum yang terbuat dari coklat, entah apa namanya aku lupa. Awalnya ingin memesan es cream seperti gambar yang terpampang di pintu masuk, tapi ternyata tidak ada dalam menu. Entah mataku yang kurang jeli melihat di daftar menu atau memang itu hanya promosi di hari tertentu.
Ku panggil seorang pelayan yang sedang membersihkan meja di depanku.

Mas…mas…mas…”. Panggilku.
iya mas bentar”. Jawabnya.

Selesai membersihkan, pelayan itu langsung turun ke bawah untuk mengantarkan piring kotor bekas tempat makan pelanggan. Salah seorang pelayan yang berdiri di belakang mejaku tak luput pula aku memanggilnya.

mas…mas….”. kataku.
bentar mas” . jawabnya.

Rasa tidak nyaman pun mulai muncul. Pikiran buruk tentang warung ini sudah menjalar dalam pikiran.
Apa memang dikira gak bayar yah”. Dalam hatiku.

Sekitar 20 menit aku duduk di atas kursi dengan meja bundar diatasnya dilengkapi tissue. Tak ada seorang pelayan pun yang memperdulikan kami. Meskipun  tergolong pelanggan baru, karena aku baru pertama kali datang. Tapi setidaknya ada sedikit perhatian untuk pelanggan baru. Kesan pertama yang kurang menyenangkan akan menjadi penilaian dari pembeli. karena satahuku motto dari penjual adalah memuaskan customer.

Sembari menunggu pelayanan yang tak kunjung datang, aku pun melihat keadan sekitar. Tempat yang dipenuhi anak-anak muda dengan pakaian sedikit terbuka membuat hati ini lepas dari kekesalan. Mereka membawa pasangan masing-masing. Yah, tentunya laki-laki dengan perempuan. Ruangan yang di lengkapi lampu remang-remang memang cocok untuk memanjakan pasangan. Berbeda denganku, yang membawa pasangan laki-laki. Tujuan awal memang bukan untuk pacaran, tetapi hanya untuk membuat perut ini kenyang.

Tersontak kaget ketika ada suara dari samping kananku secara tiba-tiba.

“Pesan apa mas?”. Kata pelayan.
“Pesan es coklat dua mas?” jawabku dengan kaget.
“sudah itu saja?”. Sahutnya.

Jawaban dengan bahasa tubuh tanda meng  iyakan membuat pelayan itu kembali untuk mengambilkan pesanan kami. Akhirnya, kamipun dapat perhatian dari pelayan warung itu. Selang berapa menit, pesananku diantarkan dengan sebuah nampan kayu yang diangkat oleh pelayan laki-laki. Rasa haus yang kiranya sudah tak terbendung lagi kini akan terhapus dengan es coklat yang ku pesan.

Ini adalah pengalaman tentang pelayanan yang kurang memuaskan disalah satu warung makan yang tidak bisa disebutkan namanya.  Dimana warung itu terletak sepanjang jalan gejayan selesai dari toga mas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar